Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

15 April 2011

Buku elektronik

Awal minggu ini pesanan iPad2 saya akhirnya tiba juga. Tujuan utama menggunakan iPad ini sebenarnya karena saya membutuhkan komputer kedua yang bisa saya bawa-bawa. Tetapi saya juga ingin mencoba sesuatu yang baru, lebih portabel dan enak untuk membaca (buku, jurnal, blog, web surfing dan lainnya) selain untuk menulis penelitian saya dan fitur hiburan tentunya. Dan akhirnya diputuskanlah untuk membeli iPad2 ini. Dan sesuai dengan yang diharapkan, iPad ini enak sekali untuk membaca, mulai dari majalah, jurnal dan buku karena ukurannya bisa dikatakan hampir sama dengan ukuran buku tulis pada umum. aplikasi majalahnya banyak yang mempunyai format tersendiri, yang lebih kaya dengan multimedia. Selain bisa membaca artikelnya dengan sapuan jari atau sentuhan pada tab yang tersedia maka keluarlah gambar yang memenuhi layar sehingga bisa terlihat dengan jelas, bahkan video yang memberikan ilustrasi dari topik yang ada di dalam artikel.
Yang lebih menarik lagi adalah fitur ebook atau elektronik book. Apple sendiri menyediakan applikasi ibook yang telah terinstall. Selain itu banyak pula apps2 lain yang serupa tapi tak sama. Contoh lain adalah kindle dari Amazon. Keuntungan dari Kindle adalah bila kita membeli buku dari Amazon Kindle maka kita bisa membacanya di komputer di ipad, smart phone, atau di ebook reader khusus untuk kindle. Dengan eBook di dalam portable device kita maka kita seperti selalu membawa perpustakaan pribadi kita kemanapun kita berada dan membacanya setiap ada kesempatan (dan kemauan tentunya). Sebuah konsep yang luar biasa. ebook yang ditawarkan juga beraneka ragam mulai dari komik, novel fiksi, sampai text book, walaupun pilihan untuk text book saat ini masih cukup terbatas. Selain eBook yang harus dibeli banyak juga buku yang dapat dibaca secara gratis. Program Guttenberg adalah salah satu penyedia ebook gratisan ini. Mereka mempublish ulang buku2 yang telah habis masa hak ciptanya untuk diedarkan sebagai ebook secara gratis.
Belakangan ini trend tablet mulai menjamur, dan tidak semuanya berharga mahal. Banyak juga dipasaran produk tablet keluaran negri bambu dengan harga miring. Ebook reader juga harganya semakin bersaing dan dengan display khusus yang masih tetap terbaca jelas diterik matahari, bisa menjadi pilihan yang menarik untuk yang mau mencoba membawa perpustakaannya kemana-mana.
Mungkin dimasa depan (yang saya rasa tak akan lama lagi) sema buku dan majalah akan diedarkan secara elektronik. Selain mudah dan praktis juga akan menghemat penggunaan kertas yang juga mendukung untuk konservasi lingkungan hidup.

"Membaca membuka cakrawala dunia"




24 January 2011

Belajar gitar... gratis... (kecuali gitar dan teman2nya tentunya)

Gara2 melihat ada alat yang bernama irig, mulailah keinginan bermain gitar listrik timbul kembali. Browsing di youtube, ternyata ada alat lain yang bernama ampkit link dan guitarconnect. Penasaran dengan nama2 aneh itu? irig, ampkit link dan guitarconnect adalah alat tambahan untuk iphone atau ipad supaya bisa menyambungkan gitar listrik ke applikasi amplifier gitar di iphone atau ipad. Applikasinya sendiri sampai saat ini sudah ada 4 macam, tetapi yang bagus ada 2 yaitu Amplitube dari IKmultimedia dan AmpKit dari Agile. Aplikasi tersebut ada yang gratis namun berisi pake standar. Kalau mau amplifier atau efek gitar macam2 bisa ditambah dengan biaya tertentu atau membeli paket yang sudah disediakan oleh pembuat applikasi ini.
Akhirnya dimenangkan jugalah sebuah gitar les paul dari ebay. Walaupun sudah ada bonyok kecil2 disana sini tapi masih berfungsi dengan baik. Sang pemilik sebelumnya pun sudah mengganti pickup bawaan dengan seymour duncan APH1. Berikutnya dapat juga irig dan juga stecker 1/4 inci dari toko musik lokal disini. Karena kabel sudah ada, sisa dulu membuat kabel interconnect, maka dirakitlah sebuah kabel gitar sepanjang 3 meter. Setelah dicoba ternyata tidak mengecewakan. Sinyal gitar memang agak lemah. Volume pickup gitar harus diposisi maksimum untuk mendapatkan sinyal input yang bagus. Tetapi suara yang dihasilkan cukup mendekati amplifier gitar asli. Bagusnya lagi bisa didengarkan lewat earphone sehingga tidak mengganggu tetangga, atau disambungkan ke speaker melalui amplifier atau speaker aktif bila ada yang ingin ikut mendengarkan.
Setelah itu giliran belajar gitarnya. Untuk les sudah tidak ada waktu dan biaya les disini cukup mahal. Jadi belajarlah dari guru2 di youtube. Ternyata banyak juga guru yang baik hati di internet yang memberi pelajaran dari basic sampai tingkat lanjut termasuk juga cara memainkan lagu2 yang populer, semuanya gratis. Dari gerne pop, jazz, blues sampai rock n roll ada semua.
Selain aplikasi di iphone ini untuk pengguna mac bisa juga langsung menyambungkan gitarnya dengan adaptor 1/8 inci, dan mulai bermain dengan garageband. Software ini sudah termasuk dalam setiap mac os baru. Ada pelajaran untuk gitar dan piano juga di software ini. kekurangannya ada delay bila langsung menancapkan kabel gitar (dengan adaptor tentunya) ke mac anda. Saya sendiri belum pernah mencoba dengan usb converter, namun katanya akan lebih bagus. tetapi semuanya kembali lagi pada kekuatan mac anda dan program yang menyala bersamaan saat anda bermain gitar.
Oh ya di applikasi di iphone ini pun ada bagian untuk belajar, dengan memperlambat tempo lagu sehingga bisa diikuti pelan2 buat yang baru belajar.
Seperti kata pepatah "tidak ada kata terlambat untuk belajar."

ini salah satu contoh link guru yang baik hati di youtube...
http://www.youtube.com/user/JustinSandercoeSongs

selamat mencoba...



12 September 2009

Laskar Pelangi

Sewaktu pulang ke Indonesia saya sempat menonton beberapa film di Pesawat, salah satunya adalah laskar pelangi. Film ini sudah cukup lama beredar di Bioskop. Tetapi saya baru berkesempatan menontonnya sekarang. Saya mendengar dari pacar saya bahwa film ini bagus sekali. Beruntung saya bisa mempunyai kesempatan untuk menontonnya.
Pada kesempatan ini saya ingin menulis sebuah review kecil tentang film Laskar Pelangi ini. Film yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul serupa ini mengambil setting di pulau Belitong ketika pertambangan timah sedang jaya-jayanya. Tetapi film ini tidak berhubungan dengan tambang timah tersebut. Film ini mengisahkan tentang sebuah sekolah yang hampir tutup karena tidak ada murid. Tetapi berkat kegigihan seorang guru wanita dan seorang kepala sekolah yang sudah tua, sekola ini mampu bertahan dengan 1 kelas saja yang berisi 10 orang murid, walaupun bangunannya hampir rubuh dan tidak ada dana yang mencukupi. Malahan gaji gurunya pun tidak terbayar, dan guru tersebut harus bekerja tambahan untuk mencukupi kehidupannya. Diperlihatkan juga pada film ini kontrasnya kehidupan dengan SD lainnya, yang gedung yang megah, dan peralatan penunjang yang memadai. Yang membuat kagum adalah perjuangan dari 10 orang murid serta guru dan kepala sekolah tersebut untuk belajar, berjuang untuk lepas dari belenggu kebodohan. Sesuatu hal yang mungkin tidak lagi terlihat jika manusia sudah dibuai dengan segala kemudahan untuk mendapat sesuatu.
Dari segi teknik filmnya sendiri, film ini patut diacungi jempol. Akting dari para pemainnya sangatlah bagus. Teknik pengambilan gambar pun tidak kalah dengan film Hollywood. Film ini bisa dikatagorikan sebagai film Indonesia yang wajib ditonton. Dimana belakangan ini film Indonesia kembali menjurus pada hal-hal yang berbau mistis dan komedi yang berbau sex dan tidak mendidik, film ini membawa pesan bahwa film Indonesia yang bermutu masih ada.
Dikabarkan bahwa sekuelnya yang merupakan kelanjutan novel laskar pelangi ini akan keluar juga. Semoga saya dapat juga menonton sekuelnya.

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya"

10 September 2009

Mac OS v.s. Windows

Bulan yang lalu saya berlibur (pulang kampung) ke Indonesia selama 3 Minggu. Saya pulang membawa laptop saya yang sudah cukup uzur. Acer Travelmate 4101 yang berusia 4 tahun. Saya memang berniat mengganti Laptop ini karena sudah tidak kuat lagi untuk menjalankan program-program baru, yang cendrung membutuhkan kinerja prosesor yang cepat. Setelah mencari-cari, ternyata pasaran Laptop di Indonesia hanya menyediakan Laptop dengan ukuran layar kecil (rata-rata 14 inci). Memang lebih ringkas dibawa, tetapi tidak enak untuk dilihat. laptop lama saya berukuran 15 inci, dan saya mengingkinkan laptop 17 inci sebenarnya. Selain karena untuk dibawa ke Jerman, selebihnya saya perlakukan seperti Desktop, dan saya ingin ruang kerja di layar yang cukup besar. Sebenarnya saya sudah mengincar Acer Aspire seri 7 atau seri 8, tetapi tidak ada di Indonesia. Akhirnya pilihan saya beralih ke macbook. Tetapi ketika di showroom Apple, setelah membanding-bandingkan harga, jeroan, dan besarnya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli iMac 24 inci, yang kebetulan sedang didiskon, dan setelah dibandingkan dengan harga di Jerman ternyata jauh lebih murah. Akhirnya dibelilah dan dibawa dengan susah payah dan penuh perjuangan ke Jerman.
Dalam tulisan ini saya ingin membandingkan komputer biasa dengan sistem operasi windows dan Apple dengan sistem operasi macintosh. Saya sudah mengenal komputer sejak berumur 10 tahun, ketika masih memakai disket 5 inci, tampa harddisk, lalu 256 dengan windows 95, pentium II dengan windows me, pentium 4 dan centrino dengan windows xp. Ketika bermigrasi ke sistem operasi mac os x leopard, ternyata sistem operasi macintosh ini tidaklah sesulit yang dikira. semuanya gampang diakses. lebih user friendly dengan docknya dibandingkan windows. (walaupun di windows kita bisa menambahkan program rocket dock gratis yang menyerupai docks mac os). Yang masih perlu diperlajari adalah shortcut di keyboard yang sedikit berbeda. Kinerja komputer pun cepat sekali, dan bisa dikatakan hampir bebas dari "ngeHang". Yang membuat Windows lebih unggul adalah Windows masih bisa diutak-atik dengan mudah. Atau mungkin saya yang belom paham betul dengan daleman mac os ini. Tapi itulah kesan pertama saya dalam menggunakan mac os ini.
Untuk keperluan sehari-hari seperti membuat tulisan atau data (office), edit foto dan video, surfing internet, chat, membuat musik, dan sebagainya menjadi sangat mudah.
Satu lagi keunggulan dari Apple dan mac os ini adalah pembuat hardware dan software adalah satu perusahaan, sehingga bisa dikatakan kecocokan antara software dan hardware bisa mendekati 100%. Tetapi hal ini juga menjadikan kelemahan dari komputer Apple, yaitu tidak bisa diotak atik dan dimodifikasi dengan mudah.
Yah semua ada keunggulan dan kelemahan masing-masing, tetapi secara garis besar saya lebih menyukai sistem mac os ini, terlebih bila mau windows bisa diinstall di komputer keluaran Apple, tetapi tidak sebaliknya.

"You can't have both side of a coin in a same time"

02 August 2009

Eva Cassidy - Live at Blues Alley

Minggu lalu saya membeli 2 buah CD ketika mengunjungi sebuah toko elektronik. Salah satunya adalah CD dari Eva Cassidy, Live at Blues Alley. Saya sebenarnya sudah mempunyai album ini dalam bentuk mp3 (dan sudah saya burn juga dalam bentuk CD audio) yang saya dapatkan dari teman saya, tetapi saya memutuskan untuk membelinya karena lagu-lagunya enak, dan seperti yang kita tahu sebagus-bagusnya riping mp3 tidak akan bisa menandingi rekaman aslinya. Dan kali ini saya ingin mencoba mereview CD ini. Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang Eva Cassidy. Pertama kali saya "berkenalan" dengan Eva Cassidy adalah ketika saya membeli CD Jazz in the City dengan lagunya Cheek to Cheek, dan kemudian dari CD Best Audiophile Voices Vol.1 dengan lagu What a Wonderful Worlds dan Ain't no sunshine. Suaranya merdu dan enak didengar, walaupun tidak seberat vokalis-vokalis jazz wanita lainnya. Selain itu terdapat penjiwaan yang dalam terhadap setiap lagu yang dia bawakan. Oleh karenanya saya memutuskan membeli CD berdurasi 57 menit 21 detik ini.
Pada CD Live at Blues Alley ini terdapat 13 Lagu. 12 Lagu pertama direkam live di Blues Alley pada tanggal 2 dan 3 Januari 1996. Hanya lagu terahir yang berjudul Oh, Had I A Golden Thread direkam di Chris Biondo's studio. Di CD ini nuansa rekaman livenya benar-benar terasa. Kadang terdengar juga dentingan gelas dan sebagainya. Lagu-lagunya tidak hanya dalam irama Jazz saja, tetapi juga Blues dan Gospel, sehingga tidak membosankan.
Daftar lagu dalam CD ini adalah sebagai berikut:
1. Cheek to Cheek
2. Stromy Monday
3. Bridge Over Troubled Water
4. Fine and Mellow
5. People get Ready
6. Blue Skies
7. Tall Trees in Georgia
8. Fields of Gold
9. Autum Leaves
10. Honysuckle Rose
11. Take Me to the River
12. What a Wonderful World
13. Oh, had I A Golden Thread
Lagu pertama dibuka dengan sambutan untuk Eva Cassidy, lalu disambut dengan lagu Cheek to Cheek yang berirama Jazz. Lagu kedua kental dengan nuansa Blues, dibawakan dengan penjiwaan yang sangat baik. Lagu berikutnya dibawakan dengan iringan simple pada awal lagu, ditengahi dengan petikan gitar listrik dan dilanjutkan lagi dengan full band. Lagu ke4 kembali ke nuansa Blues. Lagu selanjutnya yang berjudul People get Ready bertemakan Gospel, dibawakan lagi-lagi dengan sangat baik. Selanjutnya kembali ke irama Jazz dengan lagu Blue Skies yang lagi-lagi dibawakan dengan sempurna. Lagu ke 7 ini menurut Eva Cassidy sendiri adalah lagu masa kecilnya, dibawakan hanya dengan iringan gitar solo dengan efek tremolo. Pada lagu ini suara merdu Eva Cassidy sangatlah dominan. Lagu berikutnya adalah lagu populer dari Sting berjudul Fields of Gold, dibawakan dengan iringan sederhana petikan gitar. Begitu pula dengan lagu berikutnya yang berjudul Autum leaves. Dibawakan dengan iringan sederhana gitar dan ditengahi dengan lantunan piano yang membuat suasananya semakin "suram" sesuai dengan isi lagunya. Lagu ke 10 kembali ke irama Jazz dengan full band. Lagu berikutnya bernuansa sangat berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, Blues yang sedikit ngebeat, tetapi dibawakan juga dengan sempurna. Lagu berikutnya yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong ditujukan Eva Cassidy untuk orang tuanya yang datang menonton pada malam itu, terutama Ayahnya yang telah mengajari dia bermain gitar. Lagu ini yang merupakan salah satu lagu favourite saya dibawakan dengan irama yang santai dan penuh penjiwaan. Lagu terahir dari album ini sangat kental dengan irama Gospel dengan iringan organ walaupun isinya sebenarnya bukanlah lagu Gospel. Didalam lagu ini terdapat lengkingkan Eva Cassidy yang sangat terkontrol. Secara keseluruhan CD ini patut diacungi 2 Jempol. Cukup layak masuk daftar koleksi anda bila anda menyukai lagu yang beirama Jazz dan Blues dan rekaman dengan nuansa live.
Sebagai informasi tambahan sekarang kita hanya bisa menikmati suara indah dari Eva Cassidy melalui CD saja, karena pada 2 November 1996, tahun yang sama dari rekaman ini, Eva Cassidy meninggal akibat Melanoma Maligna yang menyebar ke Tulang dan Paru-parunya.

"I hear babies cry, I watch them grow... They'll learn much more than I'll ever know... And I think to my self, ooh What a wonderful World..."