10 August 2009

Assuransi Kesehatan Wajib

Sewaktu saya mulai bekerja di Rumah Sakit di Jerman, salah satu hal yang saya kagumi dan sekaligus membuat saya iri adalah sistem pembiayaan pasien. Mengapa demikian? Disini saya banyak menemui pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis, atau penyakit kanker yang hidup cukup lama setelah didiagnosis menderita penyakit tersebut. Mereka bisa mendapatkan cuci darah secara rutin, bahkan cangkok ginjal, atau kemoterapi, atau terapi radiasi sampai operasi dengan mudah. Sangatlah kontras sekali bila dibandingkan dengan keadaan di Indonesia. Di Indonesia orang sangatlah takut dengan kata cuci darah atau penyakit kanker. Ada pasien yang sampai habis hartanya, bahkan rumahnya pun dijual untuk biaya pengobatan seperti cuci darah, atau kemoterapi, dan sebagainya.
Hal yang membedakannya adalah di Jerman diberlakukan peraturan pemerintah bahwa setiap warga negara wajib memiliki Assuransi kesehatan. Dan negara pun memberikan solusi untuk rakyatnya yang pas-pasan atau miskin untuk mendapat asuransi kesehatan wajib yang setengah disubsidi oleh pemerintah, karena preminya merupakan potongan langsung dari penghasilan. Bahkan orang asing pun yang mau tinggal di Jerman wajib memiliki Assuransi, minimal assuransi perjalanan untuk kunjungan singkat. Untuk yang mempunyai penghasilan tinggi dan ingin pelayanan lebih dalam bidang kesehatannya bisa membeli Assuransi kesehatan privat yang lebih mahal.
Dari sistem ini pasien dan dokter pun diuntungkan. Contohnya dalam keadaan darurat kecelakaan di jalan raya misalnya, siapa pun bisa menelepon Ambulan, dan Ambulan tersebut dengan sigap datang membantu tampa bertanya siapa nanti yang membayar. Lalu ketika sampai ke Unit Gawat Darurat, tidak perlu ditanyai keluarga pengantarnya mana, dan uang jaminannya untuk perawatan sekian juta harus dibayar dimuka. Cukup memberikan kartu Assuransinya. Dokter yang menanganinya pun lebih dimudahkan. Mau pasang infus, memberi obat yang harganya mahal (selama dicakup oleh Assuransi) tidak perlu berpikir dan menimbang-nimbang, antara menyelamatkan pasien, atau ditegur menegement Rumah Sakit karena ternyata pasien tidak mampu membayar obatnya.
Sepertinya Indonesia pun sudah saatnya memikirkan sistem pembiayaan pasien yang sesuai untuk diterapkan bagi rakyat Indonesia. Daripada dipakai subsidi dengan cara Askeskin, yang nyatanya banyak juga diselewengkan oleh oknum kerabat pejabat dan sebagainya.
Sistem Assuransi kesehatan ini hanya merupakan salah satu metode pembiayaan pasien yang ada. Saya masih ingat sewaktu mendapat kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat di bangku kuliah mendapat materi kuliah pembiayaan pasien ini. Semoga saja tidak hanya menjadi wacana di Mata kuliah, tetapi bisa dijadikan kenyataan di bumi Indonesia.

"Sedialah Payung Sebelum Hujan"

02 August 2009

Eva Cassidy - Live at Blues Alley

Minggu lalu saya membeli 2 buah CD ketika mengunjungi sebuah toko elektronik. Salah satunya adalah CD dari Eva Cassidy, Live at Blues Alley. Saya sebenarnya sudah mempunyai album ini dalam bentuk mp3 (dan sudah saya burn juga dalam bentuk CD audio) yang saya dapatkan dari teman saya, tetapi saya memutuskan untuk membelinya karena lagu-lagunya enak, dan seperti yang kita tahu sebagus-bagusnya riping mp3 tidak akan bisa menandingi rekaman aslinya. Dan kali ini saya ingin mencoba mereview CD ini. Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang Eva Cassidy. Pertama kali saya "berkenalan" dengan Eva Cassidy adalah ketika saya membeli CD Jazz in the City dengan lagunya Cheek to Cheek, dan kemudian dari CD Best Audiophile Voices Vol.1 dengan lagu What a Wonderful Worlds dan Ain't no sunshine. Suaranya merdu dan enak didengar, walaupun tidak seberat vokalis-vokalis jazz wanita lainnya. Selain itu terdapat penjiwaan yang dalam terhadap setiap lagu yang dia bawakan. Oleh karenanya saya memutuskan membeli CD berdurasi 57 menit 21 detik ini.
Pada CD Live at Blues Alley ini terdapat 13 Lagu. 12 Lagu pertama direkam live di Blues Alley pada tanggal 2 dan 3 Januari 1996. Hanya lagu terahir yang berjudul Oh, Had I A Golden Thread direkam di Chris Biondo's studio. Di CD ini nuansa rekaman livenya benar-benar terasa. Kadang terdengar juga dentingan gelas dan sebagainya. Lagu-lagunya tidak hanya dalam irama Jazz saja, tetapi juga Blues dan Gospel, sehingga tidak membosankan.
Daftar lagu dalam CD ini adalah sebagai berikut:
1. Cheek to Cheek
2. Stromy Monday
3. Bridge Over Troubled Water
4. Fine and Mellow
5. People get Ready
6. Blue Skies
7. Tall Trees in Georgia
8. Fields of Gold
9. Autum Leaves
10. Honysuckle Rose
11. Take Me to the River
12. What a Wonderful World
13. Oh, had I A Golden Thread
Lagu pertama dibuka dengan sambutan untuk Eva Cassidy, lalu disambut dengan lagu Cheek to Cheek yang berirama Jazz. Lagu kedua kental dengan nuansa Blues, dibawakan dengan penjiwaan yang sangat baik. Lagu berikutnya dibawakan dengan iringan simple pada awal lagu, ditengahi dengan petikan gitar listrik dan dilanjutkan lagi dengan full band. Lagu ke4 kembali ke nuansa Blues. Lagu selanjutnya yang berjudul People get Ready bertemakan Gospel, dibawakan lagi-lagi dengan sangat baik. Selanjutnya kembali ke irama Jazz dengan lagu Blue Skies yang lagi-lagi dibawakan dengan sempurna. Lagu ke 7 ini menurut Eva Cassidy sendiri adalah lagu masa kecilnya, dibawakan hanya dengan iringan gitar solo dengan efek tremolo. Pada lagu ini suara merdu Eva Cassidy sangatlah dominan. Lagu berikutnya adalah lagu populer dari Sting berjudul Fields of Gold, dibawakan dengan iringan sederhana petikan gitar. Begitu pula dengan lagu berikutnya yang berjudul Autum leaves. Dibawakan dengan iringan sederhana gitar dan ditengahi dengan lantunan piano yang membuat suasananya semakin "suram" sesuai dengan isi lagunya. Lagu ke 10 kembali ke irama Jazz dengan full band. Lagu berikutnya bernuansa sangat berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, Blues yang sedikit ngebeat, tetapi dibawakan juga dengan sempurna. Lagu berikutnya yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong ditujukan Eva Cassidy untuk orang tuanya yang datang menonton pada malam itu, terutama Ayahnya yang telah mengajari dia bermain gitar. Lagu ini yang merupakan salah satu lagu favourite saya dibawakan dengan irama yang santai dan penuh penjiwaan. Lagu terahir dari album ini sangat kental dengan irama Gospel dengan iringan organ walaupun isinya sebenarnya bukanlah lagu Gospel. Didalam lagu ini terdapat lengkingkan Eva Cassidy yang sangat terkontrol. Secara keseluruhan CD ini patut diacungi 2 Jempol. Cukup layak masuk daftar koleksi anda bila anda menyukai lagu yang beirama Jazz dan Blues dan rekaman dengan nuansa live.
Sebagai informasi tambahan sekarang kita hanya bisa menikmati suara indah dari Eva Cassidy melalui CD saja, karena pada 2 November 1996, tahun yang sama dari rekaman ini, Eva Cassidy meninggal akibat Melanoma Maligna yang menyebar ke Tulang dan Paru-parunya.

"I hear babies cry, I watch them grow... They'll learn much more than I'll ever know... And I think to my self, ooh What a wonderful World..."

29 July 2009

Sial atau Beruntung

Hari ini kira-kira pukul 15 datanglah seorang pasien dari ruangan, terbaring di ranjangnya. Dari surat keterangan permintaan pemeriksaan ternyata pasien tersebut akan mendapatkan operasi Bypass jantung yang terencana (Elektif). Salah satu pemeriksaan rutin sebelum operasi adalah USG Doppler Arteri Carotis (Pembuluh darah arteri di leher).
Pasiennya seorang laki-laki, berumur 60 tahunan. Dari anamnesis tidak didapatkan gejala-gejala gangguan neurologis, tanda-tanda stroke, amaurosis fugax (hilang pengelihatan di sebelah mata selama beberapa saat), vertigo, sakit kepala, pingsan, Pemeriksaan USG pun dilakukan, dimulai dari leher sebelah kanan. Arteri carotis communis cukup bersih, terdapat beberapa plaque, tebal tunika intima cukup normal. Di daerah bulbus carotis terdapat Plaque echogenic yang cukup tebal dan menonjol. Di Arteri carotis externa terdapat sedikit Plaque, tetapi aliran darah cukup normal, tidak ada tanda-tanda stenosis. Keadaan di Arteri carotis interna lah yang membuat sedikit kaget. Plaque dari daerah bulbus terus menyambung sampai ke awal Arteri carotis interna membuat penyempitan dengan arus aliran darah yang turbulen. Ketika aliran darah tersebut diukur dengan PW-mode didapatkan aliran darah dengan kecepatan lebih dari 400 cm/s, menandakan adanya penyumbatan yang lebih dari 90%. Darah di A. vertebralis mengalir dengan arah yang semestinya dengan aliran yang cukup kuat, sepertinya kompensasi dari penyempitan Arteri carotis interna ini.
Pemeriksaan beralih ke sisi kiri. Kondisi Arteri carotis communis mirip dengan sisi kanan. Daerah bulbus carotis pun dipenuhi dengan Plaque. Arteri carotis externa masih dengan sedikit Plaque dan aliran darah yang cukup normal. Loh Arteri carotis internanya mana nih, wah tidak ada aliran darahnya. Arteri carotis interna sebelah kiri tersumbat total. Darah di A. vertebralis mengalir dengan arah yang semestinya dengan aliran yang lebih kuat lagi dibandingkan dengan sebelah kanan.
Setelah melakukan pemeriksaan saya pun memberitahukan kondisi ini pada sang pasien. Saya pun memanggil seorang rekan saya untuk memeriksa ulang bapak ini. Dan hasil rekan saya pun sama dengan hasil pemeriksaan saya.
Pasien ini cukup terkejut dengan kesialan yang menimpanya, karena baru saja ia mendapat berita bahwa pembuluh darah di jantungnya tersumbat dan tidak bisa ditangani dengan kateterisasi balon dan pemasangan stent, dan harus menjalani operasi Bypass, dan sekarang mendengar berita pembuluh darah ke otaknya tersumbat di satu sisi dan mengalami penyempitan dengan derajat tinggi di sisi lainnya.
Kami pun berusaha menenangkan sang pasien. Kami bilang, "Anda sangatlah beruntung, sedikit lagi penyumbatan di sebelah kanan, maka otak anda tidak mendapat cukup pasokan darah, dan bisa mengalami stroke. Dan setelah kita tahu permasalahan di Arteri carotis ini kita bisa merencanakan penanganan selanjutnya untuk penyakit yang Bapak derita."

"Mencegah lebih baik daripada Mengobati"

26 July 2009

Rahasia Memasak

Saya senang memasak, dan kebetulan beberapa teman dan keluarga saya menyukai masakan saya. Untuk disebut sebagai koki sebetulnya saya masih jauh dari pantas. Walaupun saya punya cita-cita membuka sebuah restoran atau café suatu saat nanti. Tetapi walaupun demikian saya ingin memberikan tips-tips untuk memasak, terutama untuk yang sedang belajar memasak.
Sebenarnya pendidikan resmi yang saya peroleh untuk memasak hanya sewaktu SMP di pelajaran extra memasak (Kue) di kelas 3. Itupun gara-gara dikeluarkan dari elektro. Sewaktu itu saya sering dibantu ibu saya untuk cara-cara memasaknya. Setelah lulus SMP saya hanya kadang-kadang saja memasak. Kebanyakan puding berbahan dasar Agar-agar. Sewaktu kuliah saya sering memperhatikan teman ayah saya kalau kebetulan dia memasak di Kelenteng. Teman ayah saya ini anak dari seorang pengusaha restoran chinese food di Bandung. Beliau pun mempunyai restoran di Paskal Hypersquare Bandung. Dari teman ayah saya inilah saya belajar banyak lagi tentang memasak (Sayuran terutama chinese food). Pertama-tama saya belajar memasak Nasi goreng. Karena menurut beliau memasak nasi goreng ini merupakan dasar. Bila sudah bisa memasak nasi goreng secara benar maka memasak masakan lain bukanlah masalah besar. Saya pun sering mempraktekkan masak nasi goreng di rumah. Mulai dari gosong, keasinan, kurang bumbu, dan sebagainya. Tetapi saya tidak menyerah dan mengulangnya kembali. Sesudah itu saya mencoba berbagai variasi. Lalu saya pun sering bertanya kepada beliau tentang tentang cara memasak sayur ini dan itu. Dia memberi tahu resep dasarnya dan juga teknik yang benar. Dari situ saya jadi berlatih berfikir memasak menggunakan logika. Artinya memasak bukan hanya mengikuti resep tetapi berfikir, karena memasak itu adalah gabungan dari proses kimia dan fisika.
Teman saya pun kadang bertanya mengapa saya bisa memasak dengan enak. Saya sering menjawabnya karena saya membubuhkan sedikit cinta kedalam masakan tersebut. Artinya disini saya mencintai makanan dan memasak. Jadi memasak dengan mencintainya (bersungguh-sungguh) akan menghasilkan masakan yang enak. Yang kedua adalah mencintai makanan juga. Dalam artian menghargai makanan, orang Jepang mengenal istilah motainai, yang artinya dalam hal ini jangan sampai menyianyiakan makanan, jangan membuang-buang makanan.
Selain itu ada faktor-faktor yang mempengaruhi hasil masakan. Pertama bahan yang tepat dan cukup bermutu. Alat memasak yang benar. Cara memasak yang tepat. Waktu penyajian. Dan yang terakhir saya dapatkan dari pacar saya, dia mengkritik saya karena foto yang saya tampilkan dari masakan saya biasa saja. Ternyata penampilan makanan pun tidak boleh dilupakan. Penampilan masakan yang indah ternyata bisa mengundang selera makan, dan yang menyantap merasakan pula makanannya lebih enak.
Bila ditanya mana yang lebih mudah antara membuat kue dan memasak sayuran, jawabannya adalah jelas memasak sayuran. Kesalahan tersering adalah salah tekniknya dan salah dalam pembumbuan, tetapi kebanyakan masih bisa dinikmati dan masih bisa diperbaiki dengan sedikit modifikasi. Tetapi bila kesalahan tersebut terjadi dalam pembuatan kue, hasilnya pasti akan hancur dan tidak enak dimakan. Dan untuk memperbaikinya adalah hampir mustahil. Harus mengulang lagi dari awal.
Semoga tips-tips ini berguna bagi anda yang berniat memasak.

"Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal dan pelajaran yang sangat berharga. Kebangkitan dari suatu Kegagalan merupakan sebuah kesuksesan."

22 July 2009

Dokter koq merokok???

Sesuai judulnya, saya pernah ditanya oleh pacar saya ketika suatu saat dia menjemput saya di Rumahsakit. "Itu koq dokter-dokter pada ngerokok didepan pintu?" Memang karena disini (Jerman) ada peraturan dilarang merokok di dalam gedung, terutama gedung publik. Waktu itu saya jawab saja sambil nyeletuk, "itu mah dokter gila."
Pengalaman saya tentang dokter yang merokok pun tidak segitu saja. Banyak juga pasien yang ketika dinasehati untuk berhenti merokok menjawab lah dokter aja ada yang merokok seperti kereta api (langsung menyalakan rokok baru setelah rokok yang dihisap habis) koq, masa saya harus berhenti.
Hal yang dianggap sepele inilah yang sebenarnya merusak citra Dokter. Selain itu menghambat pula kampanye kesehatan yang berusaha menghapuskan rokok dari dunia.
Ada baiknya kita bahas dulu tentang rokok itu sendiri. Rokok merupakan tembakau baik murni maupun campuran yang digulung dan dibungkus oleh bahan pembungkus baik kertas maupun daun, dan dibakar dan dihisap asapnya dari ujung lainnya. Efek positif dari Rokok ini sebenarnya hampir tidak ada, dan efek negatif dari rokok malahan segudang. Contoh-contoh dari efek negatifnya antara lain penyakit paru-paru, penyakit pembuluh darah dan jantung, penyakit keganasan, kelainan kandungan, penyakit psikologis, dan sebagainya.
Di klinik saya sering menemui penyakit paru-paru dan pembuluh darah yang disebabkan oleh rokok, mulai dari penyempitan pembuluh darah koroner jantung dan pembuluh darah lainnya diseluruh tubuh (pAVK, Winiwarter-Bürger Syndrom, sampai impotensi), penyumbatan vena akibat thrombosis, kanker paru-paru, COPD, kanker esophagus, stroke dan lain sebagainya. Dan anehnya, walaupun sudah ditulis peringatan dibungkusnya orang tetap saja tidak ada yang perduli.
Selain itu masih banyak lagi kerugian lainnya dari merokok ini, antara lain menambah beban pembelanjaan keluarga. Coba saja kita hitung-hitung kalau tidak percaya. Sebungkus rokok harganya kira-kira 10.000 rupiah. Bila anda menghabiskan 1-2 bungkus perhari, dalam sebulan anda membakar uang senilai 300-600ribu rupiah, satu tahun anda membakar 3.650.000-7.300.000. Belum lagi bila anda mengkonsumsi lebih dari 2 bungkus per hari. Bila dana pembelian rokok ini dialokasikan untuk kepentingan lain yang lebih bermanfaat, misalnya untuk peningkatan gizi atau pendidikan anak bukankah merupakan angka yang sangat berarti untuk meningkatkan mutu dan kualitas SDM Indonesia di masa mendatang?
Menurut pendapat saya pribadi sih seharusnya rokok ini sudah harus dimasukkan ke dalam kategori Narkoba, karena selain merusak tubuh seperti Narkoba lainnya, rokok juga menimbulkan ketergantungan, baik fisik maupun mental. Alangkah lebih baik lagi bila MUI misalnya mengharamkan juga rokok (Efeknya kan lebih berbahaya dari Facebook). Tetapi bila ditelusuri lagi sih tidak akan mungkin bisa. Lah yang seharusnya bisa membuat peraturan seperti itu, termasuk dokter, pun penikmat rokok.
Kembali lagi ke topik utama. Saya pun heran kepada rekan dokter yang masih saja merokok. Apakah ijazahnya dapet beli, atau pas ujian nyontek semua, atau bagaimana entahlah. Sewaktu kuliah dan selama di klinik pun para Dokter seharusnya sudah tahu apa dampak buruk merokok. Tetapi koq masih ada saja yang masih bodoh mau memakainya. Yah kalau lulus ujiannya hasil mencontek sih dapat dimaklumi, mungkin tidak pernah membaca dan mendengarkan kuliah sewaktu dampak negatif rokok bagi kesehatan ini diberikan. Dan sialnya dokter-dokter semacam inilah yang dijadikan panutan para pecandu rokok ini. Dokter yang seharusnya berperan sebagai agent of change untuk masyarakat malah membawa masyarakat kedalam keterpurukan (dalam hal masalah kesehatan).
Yah bagaimanapun saya hanya bisa menulis di Blog campur aduk ini. Tetapi saya tetap mengajak semua orang untuk tidak merokok. Dan bila anda mau merokok tolong telanlah asap rokok itu semua untuk diri anda sendiri, jangan dibagi-bagi ke lingkungan sekitar anda. Ingatlah, dengan merokok anda berarti menyebarkan penyakit kepada orang-orang di sekitar anda, termasuk pada orang yang anda sayangi.

"Sebelum mencoba membenahi orang lain, benahilah dulu diri sendiri. Bagaimana bisa menolong orang lain bila diri sendiri sedang berada dalam kesusahan."

19 July 2009

Musik dan Objektivitas

Saya jadi teringat jaman kuliah dulu, ada seorang teman saya yang suka dengan F4 terutama Vanness Wu. Lalu ketika F4 mengeluarkan album, dan sewaktu Vanness Wu juga mengeluarkan album, dia langsung membelinya. Padahal menurut saya suaranya juga tidak bagus, apalagi ketika menyanyi live. Lalu saya tanya alasannya. Dia pun menjawab Abis Vanness kan cakep. Lalu jaman F4 berlalu dan Jay Chou pun mulai populer, dia langsung pindah aliran membeli CD Jay Chou. Yah lebih mending deh, suaranya bagus, isi lagunya pun bermutu. Tapi buat dia tetap alasannya karena Jay Chou ganteng.
Saya terus terang bingung dengan sikap kebanyakan orang seperti teman saya ini. Mereka menilai musik bukan dari segi kualitas musik tersebut secara objektiv tetapi karena penampilan si Penyanyi. Aneh kan, Musik yang didengarkan telinga koq diniali bukan dengan telinga tapi dengan mata???
Apakah lantas saya tidak menyukai penyanyi (mengidolakan) penyanyi tertentu? Tentu saja saya juga punya Penyanyi yang saya sukai. Bahkan beberapa saya mempunyai albumnya secara lengkap. Saya menyukai Diana Krall, Michael Bubblé, Teresa Teng, Cai Qin, Jubing Kristianto, dan banyak lagi. Bahkan Jay Chou pun saya suka. Diana Krall dan Cai Qin memang cantik, Michael Bublé dan Jay Chou memang keren dan ganteng. Tapi apakah saya memilih membeli album mereka begitu beredar di pasaran karena mereka cantik dan ganteng? tentu tidak. Saya membelinya karena suara mereka bagus, musiknya pun bagus. Saya sebenarnya tidak perduli siapa yang menyanyikannya, yang penting suaranya bagus dan enak di dengar.
Mungkin ada pula yang lebih ekstrim, mereka tidak mau membeli musik dari artis tertentu hanya karena alasan Ras, Agama, kelakuannya aneh, tampangnya aneh, atau diskriminasi lainnya. Benar-benar keterlaluan menurut saya.
Cobalah nikmati musik anda seperti berikut. Pasang CD atau apapun sumber musik anda di sistem audio terbaik anda yang sesuai dengan jenis lagu anda. Kalau bisa di tempat yang benar-benar sunyi dari suara luar atau suara lain. Matikan semua lampu, duduklah di tempat duduk terbaik untuk mendengarkan musik dari sistem anda (sweet spot). Dengarkanlah sambil memejamkan mata. Anda akan dapat menikmati musik yang anda sukai dengan lebih seksama dan akan terasa keindahan dari lagu yang dibawakan penyanyi yang memiliki kualitas sesuai.
Tapi tips ini tidak berlaku untuk musik dengan irama nge'beat'. Untuk irama ini anda memang harus menikmatinya di club atau lantai disco. Karena memang diperuntukan demikian.
Dan kualitas Musik terbaik tetap tidak ada yang mengalahkan Live performance di depan Anda.

Selamat menikmati musik dengan Objektif...

"Kadang dengan 'mematikan' salah satu dari panca indra kita, maka kita dapat memfokuskan indra lain dengan lebih baik."

16 July 2009

Apakah hanya sakit otot saja?

Hari ini saya memeriksa seorang pasien yang datang ke ruang gawat darurat. Setelah memberi salam dan perkenalan diri, saya pun melakukan anamnesis. Karena saya mendapat permintaan pemeriksaan tungkai kanan untuk memastikan adanya Thrombosis, maka saya mulai dengan pertanyaan, "ada masalah apa dengan kakinya?" Pasien menjawab, "hanya sakit di betis kanan, tapi sekarang sudah mendingan. Sekarang hanya kalau ditekan saja" Lalu saya tanya, "memangnya sudah sejak kapan sakitnya?" Pasien pun menjawab, "Sudah sekitar 2 minggu, lalu ke Dokter saya diberi obat untuk rasa sakit." Pertanyaan berikutnya, "Apakah kakinya bengkak juga?" Pasien menyangkalnya. Lalu saya mulai bertanya tentang komplikasi dari Thrombosis ini, "Apakah ada sesak nafas?" Pasien juga menyangkalnya. Pasien pun mengatakan bahwa baru-baru ini mengalami operasi Abses dan drainase di leher dan rahang sebelah kanan, sambil menunjukkan bekas luka operasinya. Saya pun mulai bertanya ke faktor risiko, "Apa ada penyakit kanker?" Pasien mengiyakannya. "Apakah sudah pernah mengalami penyumbatan vena akibat thrombosis?" Pasien menjawab, "Tidak pernah, tetapi tadi pagi setelah mendapatkan pemeriksaan CT-Scan, saya diberitahu bahwa ada Thrombosis di paru-paru dan dirujuk ke sini."
Lalu saya pun menjalankan alat USG colourdoppler dan mulai memeriksa vena tungkai dari vena iliaca externa distal, vena femoralis, vena poplitea, vena-vena tibiales posteriores, vena tibialis anterior, dan vena-vena fibularis. Dari hasil pemeriksaan didapatkan Thrombosis di vena fibularis dan vena tibialis posterior di tungkai kanan.
Lalu setelah memberi tahu hasil Diagnosis dengan USG colourdoppler saya memberitahu dokter ruang gawat darurat bahwa terdapat Thrombosis Vena Dalam di tungkai bawah kanan, yang mendukung diagnosis emboli pembuluh darah paru-paru. Dan saya menyarankan terapi dengan Antikoagulan Heparin molekul rendah dan balut bebat tungkai kanan dengan Verband elastis atau Stoking kompresi kelas II.
Yang saya mau garisbawahi dari cerita ini jangan menganggap remeh setiap gejala yang diberikan pasien sewaktu kita melakukan anamnesis. Mungkin seringkali keluhan pasien sakit di betis hanya dianggap nyeri otot saja, atau mungkin di masyarakat nyeri sendi dibilang asam urat. Harus selalu dipikirkan Diferensial Diagnosis dari keluhan tersebut dan kalau perlu lakukan pemeriksaan penunjang yang penting.

"Jangan meremehkan hal-hal kecil. Dari hal kecil bisa didapatkan sesuatu yang Besar."

12 July 2009

Paprika isi ala Mulipork

Sewaktu saya belajar di Goethe Institut Mannheim, teman saya yang berasal dari Serbia bernama Dejan Markovic pernah memasak Paprika isi berkuah sewaktu kita mengadakan acara memasak bersama di akhir pekan. Kemarin melihat ada paprika nganggur di dapur, jadi teringat masakan ini. Akhirnya setelah meminta resepnya lewat skype, bisa juga saya memasak Paprika isi ini, walaupun sedikit saya modifikasi resepnya.
Resep aslinya kira-kira seperti ini:

Bahan:
Paprika
Bawang bombay
Minyak untuk menumis
Daging cincang
Garam
Merica
Balsamicum
Nasi
Kentang
Cabai
Sedikit Tepung
Air

Cara membuat:
Pertama potong bagian atas paprika, dan bersihkan bijinya.
Di wajan panaskan minyak, tumis bawang bombay, lalu masukkan daging cincang, dan nasi, bumbui dengan garam, merica, dan Balsamicum, masak hingga matang, lalu isikan kedalam Paprika. Tutup dengan kentang.
Di Panci campurkan sedikit tepung terigu, garam, merica, cabai dan air, aduk hingga rata. Masak sampai mendidih, masukkan paprika isi, dan tambahkan air. Lalu masak kira-kira 45 menit, dan hidangkan.

Untuk modifikasi ala Mulipork, saya membuatnya tampa nasi dan kentang. isian hanya daging dan bumbu-bumbu. Resepnya untuk 1 porsi kira-kira sebagai berikut:

Bahan:
Paprika yang cukup besar 1 buah.
Daging cincang kira-kira 250 gram.
Bawang daun 1 batang, rajang halus.
Bawang bombay 1/4, rajang halus.
Telur (1 butir untuk 3 porsi)
Minyak Olive.
Garam.
Merica.
Gula.
Balsamicum.
Bubuk paprika.
Tepung maizena.
Air.

Cara Membuat:
Potong paprika bagian atas, bersihkan isinya, batangnya jangan dibuang.
Campurkan daging cincang, daun bawang, bawang bombay, telur, merica, garam, balsamicum dan minyak zaitun. Aduk rata, masak di wajan sambil diaduk-aduk, sampai setengah matang.
Masukkan Bahan isian kedalam Paprika, tutup kembali dengan bagian atas paprika, pakai tusuk gigi agar tidak lepas.
Di sebuah panci panaskan minyak olive, tumis bawang bombay yang sudah dirajang halus. Masukkan Paprika, tunngu sebentar lalu masukkan air sedikit.
Tambahkan gula, garam, merica dan bubuk paprika. lalu tambahkan lagi airnya,
Tutup panci dan masak hingga matang. kira-kira 45 menit.
Tambahkan larutan tepung maizena pada 5 menit terahir, dan aduk agar kuahnya agak kental.

Selamat mencoba...