19 September 2009

Babi Goreng Asam Manis

Sudah lama saya tidak memasukkan resep masakan, sekarang saya ingin membagikan resep yang satu ini. Sebenarnya karena tidak menemukan resep masakan ini ketika mencari resep di internet, jadi saya ingin membagikan cara memasak Babi Goreng Asam Manis ala Mulipork.

Bahan-bahan:
500 gr. Daging Babi, dipotong kecil dan tipis
2 sendok makan arak putih/sake
1 sendok makan kecap asin
50 gr. Tepung kanji
minyak untuk menggoreng
1/2 Bawang Bombay, iris kecil-kecil
2 siung Bawang putih
1 ruas jari Jahe
1/2 Tomat, dipotong kecil-kecil
1 Daun Bawang, diiris serong 1 cm
5 sendok makan saos tomat
1 batang wortel, dipotong korek api
1 mangkok kecil nanas kalengan beserta airnya (dipisahkan)
1 sendok teh gula
1/2 sendok teh garam
sejumput merica

Cara memasak:
  1. Campurkan daging, sake dan kecap asin, diamkan sebentar, lalu tambahkan tepung kanji, aduk rata. Goreng dalam minyak panas sampai matang dan kering, lalu tiriskan.
  2. Ambil sedikit minyak bekas menggoreng daging, tumis bawang putih, bawang bombay dan jahe sampai wangi dan layu. masukkan tomat, lalu wortel, disusul dengan nanas.
  3. Masak sampai semua agak layu, lalu masukkan saus tomat, aduk rata.
  4. Setelah mengental masukkan air nanas, aduk sampai kembali agak kental dan masukkan bawang daun.
  5. Terakhir masukkan gorengan daging dan aduk sebentar.
  6. Angkat dan Hidangkan

selamat mencoba...

15 September 2009

Setahun Bekerja

Tanggal 15 September 1 tahun yang silam, saya mulai bekerja di Rumah Sakit Universitas Heidelberg. Waktu memang tidak terasa, begitu cepat berlalu. Saya masih ingat, ketika itu saya datang dengan bahasa Jerman yang masih pas-pasan ke rumah sakit ini. Hari itu pun saya mulai diperkenalkan kepada rekan-rekan dokter di bagian Angiologie. Saya pun masih meminjam jas dokter kepala bagian Angiologie dan mulai dengan mengamati para dokter disana melakukan pemeriksaan. Dan sekarang saya sudah cukup lancar dalam berkomunikasi dengan pasien, walaupun masih belum sempurna. Saya pun sudah dapat melakukan hampir semua pemeriksaan di bagian Angiologie, dan sekarang saya pun sudah bisa membuat surat hasil pemeriksaan sendiri, walaupun kadang masih ada kesalahan kecil dalam tata bahasa. Dan yang paling mengesankan pada hari ini, tepat setelah 1 tahun saya bekerja di bagian Angiologie, saya secara kebetulan menjadi dokter utama yang "stand by" di klinik Angiologie. Sebetulnya hal ini hanya kebetulan saja, karena sedang ada kongres besar tentang jantung dan pembuluh darah di kota lain, sehingga dokter-dokter senior lainnya cuti karena menghadiri kongres tersebut. Tetapi saya merasa cukup bangga ternyata saya bisa dipercaya oleh rumah sakit dan dokter-dokter senior untuk bekerja sendiri, walaupun sebenarnya saya masih bisa berkonsultasi dengan seorang profesor yang sedang bertugas sebagai dokter kepala di bagian Angiologie saat itu.
Ternyata kerja keras saya bisa membuahkan hasil dan kebanggaan tersendiri. Kuncinya sebenarnya hanyalah bekerjalah sebaik-baiknya, dan menganggap setiap pasien yang saya tangani adalah pasien yang penting, yang bila saya tidak melakukan pekerjaan saya dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya dapat malah mencelakakan pasien. Bila kita melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya maka niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal.

"Walau apa pun yang kita lakukan, jika dibuat dengan sabar, akhirnya akan membuahkan hasil jua"

12 September 2009

Laskar Pelangi

Sewaktu pulang ke Indonesia saya sempat menonton beberapa film di Pesawat, salah satunya adalah laskar pelangi. Film ini sudah cukup lama beredar di Bioskop. Tetapi saya baru berkesempatan menontonnya sekarang. Saya mendengar dari pacar saya bahwa film ini bagus sekali. Beruntung saya bisa mempunyai kesempatan untuk menontonnya.
Pada kesempatan ini saya ingin menulis sebuah review kecil tentang film Laskar Pelangi ini. Film yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul serupa ini mengambil setting di pulau Belitong ketika pertambangan timah sedang jaya-jayanya. Tetapi film ini tidak berhubungan dengan tambang timah tersebut. Film ini mengisahkan tentang sebuah sekolah yang hampir tutup karena tidak ada murid. Tetapi berkat kegigihan seorang guru wanita dan seorang kepala sekolah yang sudah tua, sekola ini mampu bertahan dengan 1 kelas saja yang berisi 10 orang murid, walaupun bangunannya hampir rubuh dan tidak ada dana yang mencukupi. Malahan gaji gurunya pun tidak terbayar, dan guru tersebut harus bekerja tambahan untuk mencukupi kehidupannya. Diperlihatkan juga pada film ini kontrasnya kehidupan dengan SD lainnya, yang gedung yang megah, dan peralatan penunjang yang memadai. Yang membuat kagum adalah perjuangan dari 10 orang murid serta guru dan kepala sekolah tersebut untuk belajar, berjuang untuk lepas dari belenggu kebodohan. Sesuatu hal yang mungkin tidak lagi terlihat jika manusia sudah dibuai dengan segala kemudahan untuk mendapat sesuatu.
Dari segi teknik filmnya sendiri, film ini patut diacungi jempol. Akting dari para pemainnya sangatlah bagus. Teknik pengambilan gambar pun tidak kalah dengan film Hollywood. Film ini bisa dikatagorikan sebagai film Indonesia yang wajib ditonton. Dimana belakangan ini film Indonesia kembali menjurus pada hal-hal yang berbau mistis dan komedi yang berbau sex dan tidak mendidik, film ini membawa pesan bahwa film Indonesia yang bermutu masih ada.
Dikabarkan bahwa sekuelnya yang merupakan kelanjutan novel laskar pelangi ini akan keluar juga. Semoga saya dapat juga menonton sekuelnya.

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya"

10 September 2009

Mac OS v.s. Windows

Bulan yang lalu saya berlibur (pulang kampung) ke Indonesia selama 3 Minggu. Saya pulang membawa laptop saya yang sudah cukup uzur. Acer Travelmate 4101 yang berusia 4 tahun. Saya memang berniat mengganti Laptop ini karena sudah tidak kuat lagi untuk menjalankan program-program baru, yang cendrung membutuhkan kinerja prosesor yang cepat. Setelah mencari-cari, ternyata pasaran Laptop di Indonesia hanya menyediakan Laptop dengan ukuran layar kecil (rata-rata 14 inci). Memang lebih ringkas dibawa, tetapi tidak enak untuk dilihat. laptop lama saya berukuran 15 inci, dan saya mengingkinkan laptop 17 inci sebenarnya. Selain karena untuk dibawa ke Jerman, selebihnya saya perlakukan seperti Desktop, dan saya ingin ruang kerja di layar yang cukup besar. Sebenarnya saya sudah mengincar Acer Aspire seri 7 atau seri 8, tetapi tidak ada di Indonesia. Akhirnya pilihan saya beralih ke macbook. Tetapi ketika di showroom Apple, setelah membanding-bandingkan harga, jeroan, dan besarnya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli iMac 24 inci, yang kebetulan sedang didiskon, dan setelah dibandingkan dengan harga di Jerman ternyata jauh lebih murah. Akhirnya dibelilah dan dibawa dengan susah payah dan penuh perjuangan ke Jerman.
Dalam tulisan ini saya ingin membandingkan komputer biasa dengan sistem operasi windows dan Apple dengan sistem operasi macintosh. Saya sudah mengenal komputer sejak berumur 10 tahun, ketika masih memakai disket 5 inci, tampa harddisk, lalu 256 dengan windows 95, pentium II dengan windows me, pentium 4 dan centrino dengan windows xp. Ketika bermigrasi ke sistem operasi mac os x leopard, ternyata sistem operasi macintosh ini tidaklah sesulit yang dikira. semuanya gampang diakses. lebih user friendly dengan docknya dibandingkan windows. (walaupun di windows kita bisa menambahkan program rocket dock gratis yang menyerupai docks mac os). Yang masih perlu diperlajari adalah shortcut di keyboard yang sedikit berbeda. Kinerja komputer pun cepat sekali, dan bisa dikatakan hampir bebas dari "ngeHang". Yang membuat Windows lebih unggul adalah Windows masih bisa diutak-atik dengan mudah. Atau mungkin saya yang belom paham betul dengan daleman mac os ini. Tapi itulah kesan pertama saya dalam menggunakan mac os ini.
Untuk keperluan sehari-hari seperti membuat tulisan atau data (office), edit foto dan video, surfing internet, chat, membuat musik, dan sebagainya menjadi sangat mudah.
Satu lagi keunggulan dari Apple dan mac os ini adalah pembuat hardware dan software adalah satu perusahaan, sehingga bisa dikatakan kecocokan antara software dan hardware bisa mendekati 100%. Tetapi hal ini juga menjadikan kelemahan dari komputer Apple, yaitu tidak bisa diotak atik dan dimodifikasi dengan mudah.
Yah semua ada keunggulan dan kelemahan masing-masing, tetapi secara garis besar saya lebih menyukai sistem mac os ini, terlebih bila mau windows bisa diinstall di komputer keluaran Apple, tetapi tidak sebaliknya.

"You can't have both side of a coin in a same time"

10 August 2009

Assuransi Kesehatan Wajib

Sewaktu saya mulai bekerja di Rumah Sakit di Jerman, salah satu hal yang saya kagumi dan sekaligus membuat saya iri adalah sistem pembiayaan pasien. Mengapa demikian? Disini saya banyak menemui pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis, atau penyakit kanker yang hidup cukup lama setelah didiagnosis menderita penyakit tersebut. Mereka bisa mendapatkan cuci darah secara rutin, bahkan cangkok ginjal, atau kemoterapi, atau terapi radiasi sampai operasi dengan mudah. Sangatlah kontras sekali bila dibandingkan dengan keadaan di Indonesia. Di Indonesia orang sangatlah takut dengan kata cuci darah atau penyakit kanker. Ada pasien yang sampai habis hartanya, bahkan rumahnya pun dijual untuk biaya pengobatan seperti cuci darah, atau kemoterapi, dan sebagainya.
Hal yang membedakannya adalah di Jerman diberlakukan peraturan pemerintah bahwa setiap warga negara wajib memiliki Assuransi kesehatan. Dan negara pun memberikan solusi untuk rakyatnya yang pas-pasan atau miskin untuk mendapat asuransi kesehatan wajib yang setengah disubsidi oleh pemerintah, karena preminya merupakan potongan langsung dari penghasilan. Bahkan orang asing pun yang mau tinggal di Jerman wajib memiliki Assuransi, minimal assuransi perjalanan untuk kunjungan singkat. Untuk yang mempunyai penghasilan tinggi dan ingin pelayanan lebih dalam bidang kesehatannya bisa membeli Assuransi kesehatan privat yang lebih mahal.
Dari sistem ini pasien dan dokter pun diuntungkan. Contohnya dalam keadaan darurat kecelakaan di jalan raya misalnya, siapa pun bisa menelepon Ambulan, dan Ambulan tersebut dengan sigap datang membantu tampa bertanya siapa nanti yang membayar. Lalu ketika sampai ke Unit Gawat Darurat, tidak perlu ditanyai keluarga pengantarnya mana, dan uang jaminannya untuk perawatan sekian juta harus dibayar dimuka. Cukup memberikan kartu Assuransinya. Dokter yang menanganinya pun lebih dimudahkan. Mau pasang infus, memberi obat yang harganya mahal (selama dicakup oleh Assuransi) tidak perlu berpikir dan menimbang-nimbang, antara menyelamatkan pasien, atau ditegur menegement Rumah Sakit karena ternyata pasien tidak mampu membayar obatnya.
Sepertinya Indonesia pun sudah saatnya memikirkan sistem pembiayaan pasien yang sesuai untuk diterapkan bagi rakyat Indonesia. Daripada dipakai subsidi dengan cara Askeskin, yang nyatanya banyak juga diselewengkan oleh oknum kerabat pejabat dan sebagainya.
Sistem Assuransi kesehatan ini hanya merupakan salah satu metode pembiayaan pasien yang ada. Saya masih ingat sewaktu mendapat kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat di bangku kuliah mendapat materi kuliah pembiayaan pasien ini. Semoga saja tidak hanya menjadi wacana di Mata kuliah, tetapi bisa dijadikan kenyataan di bumi Indonesia.

"Sedialah Payung Sebelum Hujan"

02 August 2009

Eva Cassidy - Live at Blues Alley

Minggu lalu saya membeli 2 buah CD ketika mengunjungi sebuah toko elektronik. Salah satunya adalah CD dari Eva Cassidy, Live at Blues Alley. Saya sebenarnya sudah mempunyai album ini dalam bentuk mp3 (dan sudah saya burn juga dalam bentuk CD audio) yang saya dapatkan dari teman saya, tetapi saya memutuskan untuk membelinya karena lagu-lagunya enak, dan seperti yang kita tahu sebagus-bagusnya riping mp3 tidak akan bisa menandingi rekaman aslinya. Dan kali ini saya ingin mencoba mereview CD ini. Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang Eva Cassidy. Pertama kali saya "berkenalan" dengan Eva Cassidy adalah ketika saya membeli CD Jazz in the City dengan lagunya Cheek to Cheek, dan kemudian dari CD Best Audiophile Voices Vol.1 dengan lagu What a Wonderful Worlds dan Ain't no sunshine. Suaranya merdu dan enak didengar, walaupun tidak seberat vokalis-vokalis jazz wanita lainnya. Selain itu terdapat penjiwaan yang dalam terhadap setiap lagu yang dia bawakan. Oleh karenanya saya memutuskan membeli CD berdurasi 57 menit 21 detik ini.
Pada CD Live at Blues Alley ini terdapat 13 Lagu. 12 Lagu pertama direkam live di Blues Alley pada tanggal 2 dan 3 Januari 1996. Hanya lagu terahir yang berjudul Oh, Had I A Golden Thread direkam di Chris Biondo's studio. Di CD ini nuansa rekaman livenya benar-benar terasa. Kadang terdengar juga dentingan gelas dan sebagainya. Lagu-lagunya tidak hanya dalam irama Jazz saja, tetapi juga Blues dan Gospel, sehingga tidak membosankan.
Daftar lagu dalam CD ini adalah sebagai berikut:
1. Cheek to Cheek
2. Stromy Monday
3. Bridge Over Troubled Water
4. Fine and Mellow
5. People get Ready
6. Blue Skies
7. Tall Trees in Georgia
8. Fields of Gold
9. Autum Leaves
10. Honysuckle Rose
11. Take Me to the River
12. What a Wonderful World
13. Oh, had I A Golden Thread
Lagu pertama dibuka dengan sambutan untuk Eva Cassidy, lalu disambut dengan lagu Cheek to Cheek yang berirama Jazz. Lagu kedua kental dengan nuansa Blues, dibawakan dengan penjiwaan yang sangat baik. Lagu berikutnya dibawakan dengan iringan simple pada awal lagu, ditengahi dengan petikan gitar listrik dan dilanjutkan lagi dengan full band. Lagu ke4 kembali ke nuansa Blues. Lagu selanjutnya yang berjudul People get Ready bertemakan Gospel, dibawakan lagi-lagi dengan sangat baik. Selanjutnya kembali ke irama Jazz dengan lagu Blue Skies yang lagi-lagi dibawakan dengan sempurna. Lagu ke 7 ini menurut Eva Cassidy sendiri adalah lagu masa kecilnya, dibawakan hanya dengan iringan gitar solo dengan efek tremolo. Pada lagu ini suara merdu Eva Cassidy sangatlah dominan. Lagu berikutnya adalah lagu populer dari Sting berjudul Fields of Gold, dibawakan dengan iringan sederhana petikan gitar. Begitu pula dengan lagu berikutnya yang berjudul Autum leaves. Dibawakan dengan iringan sederhana gitar dan ditengahi dengan lantunan piano yang membuat suasananya semakin "suram" sesuai dengan isi lagunya. Lagu ke 10 kembali ke irama Jazz dengan full band. Lagu berikutnya bernuansa sangat berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, Blues yang sedikit ngebeat, tetapi dibawakan juga dengan sempurna. Lagu berikutnya yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong ditujukan Eva Cassidy untuk orang tuanya yang datang menonton pada malam itu, terutama Ayahnya yang telah mengajari dia bermain gitar. Lagu ini yang merupakan salah satu lagu favourite saya dibawakan dengan irama yang santai dan penuh penjiwaan. Lagu terahir dari album ini sangat kental dengan irama Gospel dengan iringan organ walaupun isinya sebenarnya bukanlah lagu Gospel. Didalam lagu ini terdapat lengkingkan Eva Cassidy yang sangat terkontrol. Secara keseluruhan CD ini patut diacungi 2 Jempol. Cukup layak masuk daftar koleksi anda bila anda menyukai lagu yang beirama Jazz dan Blues dan rekaman dengan nuansa live.
Sebagai informasi tambahan sekarang kita hanya bisa menikmati suara indah dari Eva Cassidy melalui CD saja, karena pada 2 November 1996, tahun yang sama dari rekaman ini, Eva Cassidy meninggal akibat Melanoma Maligna yang menyebar ke Tulang dan Paru-parunya.

"I hear babies cry, I watch them grow... They'll learn much more than I'll ever know... And I think to my self, ooh What a wonderful World..."

29 July 2009

Sial atau Beruntung

Hari ini kira-kira pukul 15 datanglah seorang pasien dari ruangan, terbaring di ranjangnya. Dari surat keterangan permintaan pemeriksaan ternyata pasien tersebut akan mendapatkan operasi Bypass jantung yang terencana (Elektif). Salah satu pemeriksaan rutin sebelum operasi adalah USG Doppler Arteri Carotis (Pembuluh darah arteri di leher).
Pasiennya seorang laki-laki, berumur 60 tahunan. Dari anamnesis tidak didapatkan gejala-gejala gangguan neurologis, tanda-tanda stroke, amaurosis fugax (hilang pengelihatan di sebelah mata selama beberapa saat), vertigo, sakit kepala, pingsan, Pemeriksaan USG pun dilakukan, dimulai dari leher sebelah kanan. Arteri carotis communis cukup bersih, terdapat beberapa plaque, tebal tunika intima cukup normal. Di daerah bulbus carotis terdapat Plaque echogenic yang cukup tebal dan menonjol. Di Arteri carotis externa terdapat sedikit Plaque, tetapi aliran darah cukup normal, tidak ada tanda-tanda stenosis. Keadaan di Arteri carotis interna lah yang membuat sedikit kaget. Plaque dari daerah bulbus terus menyambung sampai ke awal Arteri carotis interna membuat penyempitan dengan arus aliran darah yang turbulen. Ketika aliran darah tersebut diukur dengan PW-mode didapatkan aliran darah dengan kecepatan lebih dari 400 cm/s, menandakan adanya penyumbatan yang lebih dari 90%. Darah di A. vertebralis mengalir dengan arah yang semestinya dengan aliran yang cukup kuat, sepertinya kompensasi dari penyempitan Arteri carotis interna ini.
Pemeriksaan beralih ke sisi kiri. Kondisi Arteri carotis communis mirip dengan sisi kanan. Daerah bulbus carotis pun dipenuhi dengan Plaque. Arteri carotis externa masih dengan sedikit Plaque dan aliran darah yang cukup normal. Loh Arteri carotis internanya mana nih, wah tidak ada aliran darahnya. Arteri carotis interna sebelah kiri tersumbat total. Darah di A. vertebralis mengalir dengan arah yang semestinya dengan aliran yang lebih kuat lagi dibandingkan dengan sebelah kanan.
Setelah melakukan pemeriksaan saya pun memberitahukan kondisi ini pada sang pasien. Saya pun memanggil seorang rekan saya untuk memeriksa ulang bapak ini. Dan hasil rekan saya pun sama dengan hasil pemeriksaan saya.
Pasien ini cukup terkejut dengan kesialan yang menimpanya, karena baru saja ia mendapat berita bahwa pembuluh darah di jantungnya tersumbat dan tidak bisa ditangani dengan kateterisasi balon dan pemasangan stent, dan harus menjalani operasi Bypass, dan sekarang mendengar berita pembuluh darah ke otaknya tersumbat di satu sisi dan mengalami penyempitan dengan derajat tinggi di sisi lainnya.
Kami pun berusaha menenangkan sang pasien. Kami bilang, "Anda sangatlah beruntung, sedikit lagi penyumbatan di sebelah kanan, maka otak anda tidak mendapat cukup pasokan darah, dan bisa mengalami stroke. Dan setelah kita tahu permasalahan di Arteri carotis ini kita bisa merencanakan penanganan selanjutnya untuk penyakit yang Bapak derita."

"Mencegah lebih baik daripada Mengobati"

26 July 2009

Rahasia Memasak

Saya senang memasak, dan kebetulan beberapa teman dan keluarga saya menyukai masakan saya. Untuk disebut sebagai koki sebetulnya saya masih jauh dari pantas. Walaupun saya punya cita-cita membuka sebuah restoran atau café suatu saat nanti. Tetapi walaupun demikian saya ingin memberikan tips-tips untuk memasak, terutama untuk yang sedang belajar memasak.
Sebenarnya pendidikan resmi yang saya peroleh untuk memasak hanya sewaktu SMP di pelajaran extra memasak (Kue) di kelas 3. Itupun gara-gara dikeluarkan dari elektro. Sewaktu itu saya sering dibantu ibu saya untuk cara-cara memasaknya. Setelah lulus SMP saya hanya kadang-kadang saja memasak. Kebanyakan puding berbahan dasar Agar-agar. Sewaktu kuliah saya sering memperhatikan teman ayah saya kalau kebetulan dia memasak di Kelenteng. Teman ayah saya ini anak dari seorang pengusaha restoran chinese food di Bandung. Beliau pun mempunyai restoran di Paskal Hypersquare Bandung. Dari teman ayah saya inilah saya belajar banyak lagi tentang memasak (Sayuran terutama chinese food). Pertama-tama saya belajar memasak Nasi goreng. Karena menurut beliau memasak nasi goreng ini merupakan dasar. Bila sudah bisa memasak nasi goreng secara benar maka memasak masakan lain bukanlah masalah besar. Saya pun sering mempraktekkan masak nasi goreng di rumah. Mulai dari gosong, keasinan, kurang bumbu, dan sebagainya. Tetapi saya tidak menyerah dan mengulangnya kembali. Sesudah itu saya mencoba berbagai variasi. Lalu saya pun sering bertanya kepada beliau tentang tentang cara memasak sayur ini dan itu. Dia memberi tahu resep dasarnya dan juga teknik yang benar. Dari situ saya jadi berlatih berfikir memasak menggunakan logika. Artinya memasak bukan hanya mengikuti resep tetapi berfikir, karena memasak itu adalah gabungan dari proses kimia dan fisika.
Teman saya pun kadang bertanya mengapa saya bisa memasak dengan enak. Saya sering menjawabnya karena saya membubuhkan sedikit cinta kedalam masakan tersebut. Artinya disini saya mencintai makanan dan memasak. Jadi memasak dengan mencintainya (bersungguh-sungguh) akan menghasilkan masakan yang enak. Yang kedua adalah mencintai makanan juga. Dalam artian menghargai makanan, orang Jepang mengenal istilah motainai, yang artinya dalam hal ini jangan sampai menyianyiakan makanan, jangan membuang-buang makanan.
Selain itu ada faktor-faktor yang mempengaruhi hasil masakan. Pertama bahan yang tepat dan cukup bermutu. Alat memasak yang benar. Cara memasak yang tepat. Waktu penyajian. Dan yang terakhir saya dapatkan dari pacar saya, dia mengkritik saya karena foto yang saya tampilkan dari masakan saya biasa saja. Ternyata penampilan makanan pun tidak boleh dilupakan. Penampilan masakan yang indah ternyata bisa mengundang selera makan, dan yang menyantap merasakan pula makanannya lebih enak.
Bila ditanya mana yang lebih mudah antara membuat kue dan memasak sayuran, jawabannya adalah jelas memasak sayuran. Kesalahan tersering adalah salah tekniknya dan salah dalam pembumbuan, tetapi kebanyakan masih bisa dinikmati dan masih bisa diperbaiki dengan sedikit modifikasi. Tetapi bila kesalahan tersebut terjadi dalam pembuatan kue, hasilnya pasti akan hancur dan tidak enak dimakan. Dan untuk memperbaikinya adalah hampir mustahil. Harus mengulang lagi dari awal.
Semoga tips-tips ini berguna bagi anda yang berniat memasak.

"Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal dan pelajaran yang sangat berharga. Kebangkitan dari suatu Kegagalan merupakan sebuah kesuksesan."