19 January 2010

Backpacking

Mengisi liburan dapat dilakukan dengan berbagai macam hal, salah satunya adalah bertualang ke tempat yang baru, alias jalan-jalan atau traveling. Banyak macam pilihan yang dapat diambil untuk melakukan kegiatan yang satu ini. Mulai dari ke gunung atau ke pantai, dari bersama-sama teman, keluarga maupun sendirian, dari mengatur segalanya sendiri sehingga murah alias backpacking sampai membeli paket liburan yang mewah ke agen perjalanan. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada kesempatan ini sesuai dengan judulnya saya ingin membicarakan tentang pengalaman Backpacker saya. Marilah kita telaah satu persatu.
Berjalan-jalan dengan travel agen adalah liburan yang nyaman. Semuanya telah diatur oleh sang agen. Mulai dari bangun pagi, sarapan, kendaraan menuju tempat wisata, tiket masuk pertunjukan dan museum, makan siang, makan malam, tempat belanja, sampai ke hotel berikutnya di malam harinya. Kadang kala di tempat tertentu hanya bisa dimasuki bila anda mengikuti sebuah tour dari travel agen ini. Anda pun dijamin tidak akan melewatkan segala objek wisata yang sudah dipilih sesuai dengan paket liburan pilihan anda. Anda pun bisa mendapat teman-teman baru yang mengikuti paket liburan yang sama dengan anda. Tetapi dibalik itu ada juga kekurangan dari sistem liburan ini. Semua diatur berdasarkan kepentingan kolektif. Jadi anda tidak bisa meminta lebih lama di suatu tempat yang anda suka, atau cepat-cepat pergi di tempat yang membosankan, karena keinginan para anggota yang berbeda-beda dan semuanya harus bisa diakomodasi oleh pelaksana tour ini. Anda pun harus menyiapkan uang lebih untuk memberi tip misalnya, disamping sudah membayar biaya tour. Tetapi bila dibilang mahal sebenarnya tidak benar juga. Untuk mendapatkan fasilitas yang sama dengan Tour tanpa mengikuti paket perjalanan dari Travel agen biasanya akan lebih mahal. Hal ini karena Travel agen memperoleh keringanan biaya karena membawa banyak orang.
Alternatif dari mengikuti Tour dari Travel agen adalah merencanakan semua libuaran anda sendiri alias Backpacking. Tidak seperti Tour yang dibicarakan diatas, Backpacker harus menyiapkan semuanya sendiri, mulai dari merencanakan waktu, membeli tiket, mencari informasi tentang tempat yang dituju, memesan tempat penginapan, mencari makan, dan sebagainya. Semuanya memang lebih repot, tetapi kerepotan ini membawa keuntungan tersendiri dari Backpacking ini. Pertama anda akan lebih tahu tentang tempat yang dituju, sehingga sudah mengerti kurang lebih apa yang akan dilihat, dan bila menganggap sesuatu tidak menarik anda dengan bebas bisa memilih untuk tidak mengunjunginya dan menuju langsung ke tempat-tempat yang anda sukai. Kedua anda memperoleh kebebasan yang sangat besar dalam memilih makanan. Selama saya melakukan perjalanan saya sering memperoleh makanan-makanan yang enak dan khas daerah yang dituju yang ditemukan di kios-kios kecil atau kios di pinggir jalan yang tidak mungkin akan didapatkan bila anda mengikuti Tour. Kefleksibelan waktu pun menjadi keuntungan sendiri bagi Backpacker. Kadang waktu liburan ada bisa disesuaikan dengan waktu off seasson (waktu dimana tidak banyak wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut), dimana biasanya hotel dan tiket perjalanan bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah, dan suasana tempat wisata tersebut tidak terlalu ramai (sangat berguna bila anda mencari tempat wisata untuk mendapatkan ketenangan). Bagi saya yang menyenangi dunia Fotografi, perjalanan dengan cara Backpacking ini pun memberikan keleluasaan lebih untuk saya melakukan hobi saya ini. Dapat terbayang dalam benak saya akan sangat menyebalkan sekali bila sedang asik-asiknya memotret dan belum puas sudah dipanggil pemandu Tour untuk meninggalkan tempat tersebut. Selain itu dengan Backpacking saya bisa pergi ke tempat-tempat yang masih jarang dikunjungi wisatawan lainnya dan mendapatkan suasana yang lebih asri dan alami. Dan yang terakhir Backpacking ini memberikan kepuasan tersendiri, karena semua dilakukan sendiri dengan kerja keras dan usaha sendiri untuk mewujudkan liburan impian kita sendiri.
Tetapi ada beberapa kelemahan juga dari sistem liburan Backpacking ini. Masalah pertama biasanya datang dari masalah komunikasi, yaitu bahasa. Bahasa Inggris adalah bahasa mutlak yang harus dikuasai bila ingin backpacking ke luar negri, tetapi di negara-negara yang penduduknya jarang menggunakan bahasa Inggris, komunikasi menjadi masalah tersendiri. Contohnya di Jerman atau Perancis masih banyak penduduk yang enggan memakai bahasa inggris untuk komunikasi, di daerah asia masih banyak juga penduduk yang sama sekali tidak mengerti bahasa asing. Masalah kedua adalah keamanan. Ada tempat-tempat tertentu yang sangat tidak aman dan tidak dianjurkan untuk bepergian sendirian, sehingga kehadiran seorang pemandu wisata adalah hal yang mutlak. Kesulitan lain yang mungkin dialami adalah masalah dokumen perjalanan seperti Visa dan lainnya. Untuk Tour di Travel agen biasanya hal ini sudah dicakup atau minimal dibantu penyelesaiannya secara kolektif oleh Travel agen tersebut. Tetapi para Backpacker harus menyelesaikan semuanya sendiri pula.
Setidaknya inilah nilai positif dan negatif dari Backpacking yang saya alami. Mudah-mudahan dapat berguna juga untuk anda dalam merencanakan perjalanan wisata anda selanjutnya.

02 November 2009

Olahraga sebagai Terapi

Itulah kira-kira judul salah satu Makalah yang dibawakan dalam Seminar yang saya ikuti akhir minggu lalu, yang memperingati 35 Tahun bagian Penyakit Jantung di Heidelberg, Jerman. Pembicara saat itu adalah Prof. Dr. Dr. Josef Niederbauer dari Paracelsus Medizinische Privatuniversität Salzburg.
Pada awal pembicaraan beliau mengutarakan hasil penelitian yang dilakukan pada tikus, bila tikus tersebut dibiarkan tidak aktif. Pembandingnya adalah tikus yang aktif. Tikus tersebut ada 2 kelompok. Kelompok pertama tikus yang sehat, dan kelompok kedua tikus yang secara genetik dibuat supaya mempunyai penyakit jantung (Penyempitan pembuluh darah koroner). Sehingga didapatkan 4 kelompok perlakuan pada tikus percobaan tersebut: Tikus sehat aktif, tikus sehat tidak aktif, tikus sakit aktif, tikus sakit tidak aktif. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan juga. Dimana tikus sehat yang tidak aktif ternyata setara bahkan lebih buruk bila dibandingkan dengan tikus yang sakit tetapi aktif. Ternyata peran keaktifan tubuh itu sangatlah berperan penting bagi kesehatan.
Contoh yang dapat kita temui sehari-hari antara lain orang tua yang terkena stroke (pecah pembuluh darah otak). Setelah stroke mereka cendrung menjadi tidak aktif lagi, kebanyakan terbaring di ranjang, atau hanya bisa duduk di kursi roda. Kita bisa menyaksikan penurunan kondisi yang sangat drastis ketika mereka sudah tidak aktif lagi.
Ketidakaktifan ini pun memicu permasalahan kesehatan lainnya, antara lain kegemukan dan diabetes atau kencing manis, yang keduanya dapat memicu penyakit lainnya seperti tekanan darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, stroke, dan sebagainya.
Tetapi berapa aktifkah seharusnya? Dari literatur yang ada disebutkan bahwa kita harus bergerak aktif atau berolahraga dengan target minimum 150 menit per minggu. Olahraga tersebut dapat dibagi menjadi 3 kali per minggu, atau lebih. Tetapi yang paling penting adalah rutin dilakukan.
Untungnya untuk saya yang setiap hari mengendarai sepeda sekitar 40 menit untuk bekerja kebutuhan bergerak aktif tersebut dipenuhi setiap hari. Dan memang terasa, badan tidak mudah sakit (seperti flu, batuk atau pilek).
Jadi mulailah aktif bergerak alias berolah raga. Joging, bersepeda, berenang, atau bagi yang sudah sepuh jalan santai secara rutin. Atau mungkin harus dipikirkan membeli sepeda daripada membeli motor, selain lebih ramah lingkungan, juga membuat badan sehat dan kuat.

"Orandum est, ut sit mens sana in corpore sano"

29 October 2009

Next Step: Echocardiography

Setelah 1 Tahun di bagian Angiologie, akhirnya saya melangkah ke Tahap berikutnya ke bagian Echocardiography. Hal baru lagi untuk dipelajari. Walaupun keduanya sama-sama menggunakan alat Ultrasound / Ultrasonography (USG), tetapi teknik penerapan dalam pemeriksaannya ternyata cukup berbeda. Cara-cara penilaian dan pengukurannya pun berbeda. Tetapi beruntung saya telah cukup terlatih dengan alat USG ini sehingga dalam 3 minggu (setelah berkutat dengan buku, website dan semua informasi tentang Echocardiography, dan yang terpenting latihan praktek) akhirnya sudah mulai lancar dalam pemeriksaan walaupun belum menguasai 100%. Pemeriksaan dengan USG ini ternyata memang tidak bisa hanya dipelajari dengan menghapal buku, atau melihat saja, tapi harus mempraktekannya sendiri, baru bisa melakukannya.
Bagian Echocardiography ini sangatlah menarik, dimana kita bisa melihat jantung dengan bantuan suara ultrasonic. Kita bisa menilai mulai dari anatomynya, melihat apakah ada kelainan pada dinding otot jantung atau katup jantung, melihat kebocoran pada katup jantung atau septum (dinding pemisah antara ruang jantung), menilai penyempitan katup jantung, menilai fungsi pompa jantung, melihat pengumpulan cairan di selaput jantung, sampai menilai tekanan dari pembuluh darah yang menuju paru-paru dari jantung.
Untuk yang sedang mempelajari tentang dasar dari Echocardiography ini bisa membuka website pembimbing saya disini sekaligus pimpinan lab Echocardiography (Dr. med. Derliz Mereles) di www.echobasics.de. Untuk yang tidak mengerti bahasa Jerman bisa memilih bahasa Inggris atau Spanyol.
Masih banyak yang perlu saya pelajari dari bagian ini. Setelah Trans Thoracal Echocardiography, selanjutnya perlu juga mempelajari Trans Esophageal Echocardiography yang lebih invasif dan lebih sulit. Dan dengan seiring majunya teknologi, maka pemeriksaan Echocardiography ini tidak akan berhenti disini. Sekarang sudah mulai populer Echocardiography 4D. Mungkin suatu saat nanti Jantung akan diproyeksikan secara Holographic yang memungkinkan melihat struktur jantung selapis demi selapis secara jelas dan mendetail.

"Manusia memang harus terus menerus belajar dan belajar terus menerus..."

19 September 2009

Babi Goreng Asam Manis

Sudah lama saya tidak memasukkan resep masakan, sekarang saya ingin membagikan resep yang satu ini. Sebenarnya karena tidak menemukan resep masakan ini ketika mencari resep di internet, jadi saya ingin membagikan cara memasak Babi Goreng Asam Manis ala Mulipork.

Bahan-bahan:
500 gr. Daging Babi, dipotong kecil dan tipis
2 sendok makan arak putih/sake
1 sendok makan kecap asin
50 gr. Tepung kanji
minyak untuk menggoreng
1/2 Bawang Bombay, iris kecil-kecil
2 siung Bawang putih
1 ruas jari Jahe
1/2 Tomat, dipotong kecil-kecil
1 Daun Bawang, diiris serong 1 cm
5 sendok makan saos tomat
1 batang wortel, dipotong korek api
1 mangkok kecil nanas kalengan beserta airnya (dipisahkan)
1 sendok teh gula
1/2 sendok teh garam
sejumput merica

Cara memasak:
  1. Campurkan daging, sake dan kecap asin, diamkan sebentar, lalu tambahkan tepung kanji, aduk rata. Goreng dalam minyak panas sampai matang dan kering, lalu tiriskan.
  2. Ambil sedikit minyak bekas menggoreng daging, tumis bawang putih, bawang bombay dan jahe sampai wangi dan layu. masukkan tomat, lalu wortel, disusul dengan nanas.
  3. Masak sampai semua agak layu, lalu masukkan saus tomat, aduk rata.
  4. Setelah mengental masukkan air nanas, aduk sampai kembali agak kental dan masukkan bawang daun.
  5. Terakhir masukkan gorengan daging dan aduk sebentar.
  6. Angkat dan Hidangkan

selamat mencoba...

15 September 2009

Setahun Bekerja

Tanggal 15 September 1 tahun yang silam, saya mulai bekerja di Rumah Sakit Universitas Heidelberg. Waktu memang tidak terasa, begitu cepat berlalu. Saya masih ingat, ketika itu saya datang dengan bahasa Jerman yang masih pas-pasan ke rumah sakit ini. Hari itu pun saya mulai diperkenalkan kepada rekan-rekan dokter di bagian Angiologie. Saya pun masih meminjam jas dokter kepala bagian Angiologie dan mulai dengan mengamati para dokter disana melakukan pemeriksaan. Dan sekarang saya sudah cukup lancar dalam berkomunikasi dengan pasien, walaupun masih belum sempurna. Saya pun sudah dapat melakukan hampir semua pemeriksaan di bagian Angiologie, dan sekarang saya pun sudah bisa membuat surat hasil pemeriksaan sendiri, walaupun kadang masih ada kesalahan kecil dalam tata bahasa. Dan yang paling mengesankan pada hari ini, tepat setelah 1 tahun saya bekerja di bagian Angiologie, saya secara kebetulan menjadi dokter utama yang "stand by" di klinik Angiologie. Sebetulnya hal ini hanya kebetulan saja, karena sedang ada kongres besar tentang jantung dan pembuluh darah di kota lain, sehingga dokter-dokter senior lainnya cuti karena menghadiri kongres tersebut. Tetapi saya merasa cukup bangga ternyata saya bisa dipercaya oleh rumah sakit dan dokter-dokter senior untuk bekerja sendiri, walaupun sebenarnya saya masih bisa berkonsultasi dengan seorang profesor yang sedang bertugas sebagai dokter kepala di bagian Angiologie saat itu.
Ternyata kerja keras saya bisa membuahkan hasil dan kebanggaan tersendiri. Kuncinya sebenarnya hanyalah bekerjalah sebaik-baiknya, dan menganggap setiap pasien yang saya tangani adalah pasien yang penting, yang bila saya tidak melakukan pekerjaan saya dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya dapat malah mencelakakan pasien. Bila kita melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya maka niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal.

"Walau apa pun yang kita lakukan, jika dibuat dengan sabar, akhirnya akan membuahkan hasil jua"

12 September 2009

Laskar Pelangi

Sewaktu pulang ke Indonesia saya sempat menonton beberapa film di Pesawat, salah satunya adalah laskar pelangi. Film ini sudah cukup lama beredar di Bioskop. Tetapi saya baru berkesempatan menontonnya sekarang. Saya mendengar dari pacar saya bahwa film ini bagus sekali. Beruntung saya bisa mempunyai kesempatan untuk menontonnya.
Pada kesempatan ini saya ingin menulis sebuah review kecil tentang film Laskar Pelangi ini. Film yang diangkat dari sebuah novel yang berjudul serupa ini mengambil setting di pulau Belitong ketika pertambangan timah sedang jaya-jayanya. Tetapi film ini tidak berhubungan dengan tambang timah tersebut. Film ini mengisahkan tentang sebuah sekolah yang hampir tutup karena tidak ada murid. Tetapi berkat kegigihan seorang guru wanita dan seorang kepala sekolah yang sudah tua, sekola ini mampu bertahan dengan 1 kelas saja yang berisi 10 orang murid, walaupun bangunannya hampir rubuh dan tidak ada dana yang mencukupi. Malahan gaji gurunya pun tidak terbayar, dan guru tersebut harus bekerja tambahan untuk mencukupi kehidupannya. Diperlihatkan juga pada film ini kontrasnya kehidupan dengan SD lainnya, yang gedung yang megah, dan peralatan penunjang yang memadai. Yang membuat kagum adalah perjuangan dari 10 orang murid serta guru dan kepala sekolah tersebut untuk belajar, berjuang untuk lepas dari belenggu kebodohan. Sesuatu hal yang mungkin tidak lagi terlihat jika manusia sudah dibuai dengan segala kemudahan untuk mendapat sesuatu.
Dari segi teknik filmnya sendiri, film ini patut diacungi jempol. Akting dari para pemainnya sangatlah bagus. Teknik pengambilan gambar pun tidak kalah dengan film Hollywood. Film ini bisa dikatagorikan sebagai film Indonesia yang wajib ditonton. Dimana belakangan ini film Indonesia kembali menjurus pada hal-hal yang berbau mistis dan komedi yang berbau sex dan tidak mendidik, film ini membawa pesan bahwa film Indonesia yang bermutu masih ada.
Dikabarkan bahwa sekuelnya yang merupakan kelanjutan novel laskar pelangi ini akan keluar juga. Semoga saya dapat juga menonton sekuelnya.

"Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya"

10 September 2009

Mac OS v.s. Windows

Bulan yang lalu saya berlibur (pulang kampung) ke Indonesia selama 3 Minggu. Saya pulang membawa laptop saya yang sudah cukup uzur. Acer Travelmate 4101 yang berusia 4 tahun. Saya memang berniat mengganti Laptop ini karena sudah tidak kuat lagi untuk menjalankan program-program baru, yang cendrung membutuhkan kinerja prosesor yang cepat. Setelah mencari-cari, ternyata pasaran Laptop di Indonesia hanya menyediakan Laptop dengan ukuran layar kecil (rata-rata 14 inci). Memang lebih ringkas dibawa, tetapi tidak enak untuk dilihat. laptop lama saya berukuran 15 inci, dan saya mengingkinkan laptop 17 inci sebenarnya. Selain karena untuk dibawa ke Jerman, selebihnya saya perlakukan seperti Desktop, dan saya ingin ruang kerja di layar yang cukup besar. Sebenarnya saya sudah mengincar Acer Aspire seri 7 atau seri 8, tetapi tidak ada di Indonesia. Akhirnya pilihan saya beralih ke macbook. Tetapi ketika di showroom Apple, setelah membanding-bandingkan harga, jeroan, dan besarnya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli iMac 24 inci, yang kebetulan sedang didiskon, dan setelah dibandingkan dengan harga di Jerman ternyata jauh lebih murah. Akhirnya dibelilah dan dibawa dengan susah payah dan penuh perjuangan ke Jerman.
Dalam tulisan ini saya ingin membandingkan komputer biasa dengan sistem operasi windows dan Apple dengan sistem operasi macintosh. Saya sudah mengenal komputer sejak berumur 10 tahun, ketika masih memakai disket 5 inci, tampa harddisk, lalu 256 dengan windows 95, pentium II dengan windows me, pentium 4 dan centrino dengan windows xp. Ketika bermigrasi ke sistem operasi mac os x leopard, ternyata sistem operasi macintosh ini tidaklah sesulit yang dikira. semuanya gampang diakses. lebih user friendly dengan docknya dibandingkan windows. (walaupun di windows kita bisa menambahkan program rocket dock gratis yang menyerupai docks mac os). Yang masih perlu diperlajari adalah shortcut di keyboard yang sedikit berbeda. Kinerja komputer pun cepat sekali, dan bisa dikatakan hampir bebas dari "ngeHang". Yang membuat Windows lebih unggul adalah Windows masih bisa diutak-atik dengan mudah. Atau mungkin saya yang belom paham betul dengan daleman mac os ini. Tapi itulah kesan pertama saya dalam menggunakan mac os ini.
Untuk keperluan sehari-hari seperti membuat tulisan atau data (office), edit foto dan video, surfing internet, chat, membuat musik, dan sebagainya menjadi sangat mudah.
Satu lagi keunggulan dari Apple dan mac os ini adalah pembuat hardware dan software adalah satu perusahaan, sehingga bisa dikatakan kecocokan antara software dan hardware bisa mendekati 100%. Tetapi hal ini juga menjadikan kelemahan dari komputer Apple, yaitu tidak bisa diotak atik dan dimodifikasi dengan mudah.
Yah semua ada keunggulan dan kelemahan masing-masing, tetapi secara garis besar saya lebih menyukai sistem mac os ini, terlebih bila mau windows bisa diinstall di komputer keluaran Apple, tetapi tidak sebaliknya.

"You can't have both side of a coin in a same time"

10 August 2009

Assuransi Kesehatan Wajib

Sewaktu saya mulai bekerja di Rumah Sakit di Jerman, salah satu hal yang saya kagumi dan sekaligus membuat saya iri adalah sistem pembiayaan pasien. Mengapa demikian? Disini saya banyak menemui pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis, atau penyakit kanker yang hidup cukup lama setelah didiagnosis menderita penyakit tersebut. Mereka bisa mendapatkan cuci darah secara rutin, bahkan cangkok ginjal, atau kemoterapi, atau terapi radiasi sampai operasi dengan mudah. Sangatlah kontras sekali bila dibandingkan dengan keadaan di Indonesia. Di Indonesia orang sangatlah takut dengan kata cuci darah atau penyakit kanker. Ada pasien yang sampai habis hartanya, bahkan rumahnya pun dijual untuk biaya pengobatan seperti cuci darah, atau kemoterapi, dan sebagainya.
Hal yang membedakannya adalah di Jerman diberlakukan peraturan pemerintah bahwa setiap warga negara wajib memiliki Assuransi kesehatan. Dan negara pun memberikan solusi untuk rakyatnya yang pas-pasan atau miskin untuk mendapat asuransi kesehatan wajib yang setengah disubsidi oleh pemerintah, karena preminya merupakan potongan langsung dari penghasilan. Bahkan orang asing pun yang mau tinggal di Jerman wajib memiliki Assuransi, minimal assuransi perjalanan untuk kunjungan singkat. Untuk yang mempunyai penghasilan tinggi dan ingin pelayanan lebih dalam bidang kesehatannya bisa membeli Assuransi kesehatan privat yang lebih mahal.
Dari sistem ini pasien dan dokter pun diuntungkan. Contohnya dalam keadaan darurat kecelakaan di jalan raya misalnya, siapa pun bisa menelepon Ambulan, dan Ambulan tersebut dengan sigap datang membantu tampa bertanya siapa nanti yang membayar. Lalu ketika sampai ke Unit Gawat Darurat, tidak perlu ditanyai keluarga pengantarnya mana, dan uang jaminannya untuk perawatan sekian juta harus dibayar dimuka. Cukup memberikan kartu Assuransinya. Dokter yang menanganinya pun lebih dimudahkan. Mau pasang infus, memberi obat yang harganya mahal (selama dicakup oleh Assuransi) tidak perlu berpikir dan menimbang-nimbang, antara menyelamatkan pasien, atau ditegur menegement Rumah Sakit karena ternyata pasien tidak mampu membayar obatnya.
Sepertinya Indonesia pun sudah saatnya memikirkan sistem pembiayaan pasien yang sesuai untuk diterapkan bagi rakyat Indonesia. Daripada dipakai subsidi dengan cara Askeskin, yang nyatanya banyak juga diselewengkan oleh oknum kerabat pejabat dan sebagainya.
Sistem Assuransi kesehatan ini hanya merupakan salah satu metode pembiayaan pasien yang ada. Saya masih ingat sewaktu mendapat kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat di bangku kuliah mendapat materi kuliah pembiayaan pasien ini. Semoga saja tidak hanya menjadi wacana di Mata kuliah, tetapi bisa dijadikan kenyataan di bumi Indonesia.

"Sedialah Payung Sebelum Hujan"